Program Rumah Gizi Boalemo Terbukti Tingkatkan Pengetahuan Gizi Ibu Balita

image Website Resmi Pengurus Cabang Persatuan Ahli Gizi Anak Indonesia Kabupaten Boalemo

Ringkasan Cepat:

  • Program Rumah Gizi di Desa Piloliyanga, Kabupaten Boalemo, terbukti meningkatkan pengetahuan gizi ibu balita dan memperkuat ketahanan pangan keluarga.
  • Temuan ini berasal dari riset pengabdian masyarakat tim dosen Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (UNG), dipublikasikan di Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Kepulauan Lahan Kering edisi Oktober 2025.
  • Program ini menjadi bagian dari upaya menekan angka stunting Gorontalo yang pada 2022 tercatat 23,9 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional.

Boalemo, 01 Juli 2026 — Program Rumah Gizi di Desa Piloliyanga, Kabupaten Boalemo, terbukti meningkatkan pengetahuan gizi ibu balita sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga, menurut hasil riset pengabdian masyarakat tim dosen Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang dipublikasikan Oktober 2025.

Mengapa Program Ini Penting?

Program Rumah Gizi Boalemo Terbukti Tingkatkan Pengetahuan Gizi Ibu Balita

Gorontalo masih menghadapi beban stunting yang berat. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Gorontalo pada 2022 mencapai 23,9 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Secara nasional, angka stunting memang menurun dari 24,4 persen menjadi 21,6 persen menurut data SSGI 2022 yang dirilis Kementerian Kesehatan, namun posisi Gorontalo tetap berada di atas rata-rata itu.

Kondisi inilah yang mendorong lahirnya Program Rumah Gizi di Desa Piloliyanga. Program ini dirancang sebagai respons atas masih tingginya angka stunting di Provinsi Gorontalo, dengan pendekatan yang tidak hanya mengandalkan layanan kesehatan formal, tetapi juga pemberdayaan masyarakat di tingkat desa.

Bagaimana Program Ini Dijalankan?

Program Rumah Gizi Boalemo Terbukti Tingkatkan Pengetahuan Gizi Ibu Balita

Kegiatan Rumah Gizi menyasar ibu dan balita sebagai kelompok yang paling rentan terhadap stunting, dengan 11 ibu-balita terlibat aktif di dalamnya. Intervensi tidak berhenti pada edukasi searah.

Edukasi gizi dilakukan lewat media interaktif seperti piramida gizi, sudut gizi, dan Edu TV, dilengkapi demo memasak makanan bergizi berbasis pangan lokal — mulai dari ikan, sayuran hijau, umbi-umbian, hingga buah-buahan yang mudah ditemukan di sekitar desa. Pendekatan berbasis pangan lokal ini relevan bagi wilayah pesisir seperti Boalemo, mengingat ikan menjadi salah satu sumber protein hewani dan asam lemak esensial yang paling terjangkau bagi keluarga di daerah tersebut.

Hasil dan Dampak Program

Program Rumah Gizi Boalemo Terbukti Tingkatkan Pengetahuan Gizi Ibu Balita

Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan pada pengetahuan gizi ibu balita — jumlah peserta dengan pengetahuan gizi rendah menurun, sementara kategori pengetahuan sedang dan tinggi meningkat setelah mengikuti edukasi. Keterampilan ibu dalam mengolah dan menyajikan makanan sehat juga ikut meningkat.

Dampaknya tidak berhenti di aspek pengetahuan saja. Program ini turut memperkuat ketahanan pangan rumah tangga: ibu balita menjadi lebih mampu mengelola pangan lokal, menyusun menu bergizi seimbang, serta melakukan diversifikasi bahan makanan. Empat pilar ketahanan pangan — ketersediaan, akses, pemanfaatan, dan stabilitas pangan — menunjukkan perbaikan pasca intervensi.

Kronologi Program

Program Rumah Gizi Boalemo Terbukti Tingkatkan Pengetahuan Gizi Ibu Balita
WaktuKejadianSumber
2022SSGI mencatat prevalensi stunting Gorontalo 23,9%, di atas rata-rata nasionalSurvei Status Gizi Indonesia (SSGI)
Berlangsung di Desa Piloliyanga, Kab. BoalemoPelaksanaan Program Rumah Gizi oleh tim dosen FK UNGFK UNG
Oktober 2025Hasil riset dipublikasikan di Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Kepulauan Lahan KeringJurnal Pengabdian pada Masyarakat Kepulauan Lahan Kering
14 Desember 2025Publikasi hasil riset diberitakan resmi oleh laman FK UNGfk.ung.ac.id

Apa Selanjutnya?

Program Rumah Gizi Boalemo Terbukti Tingkatkan Pengetahuan Gizi Ibu Balita

Tim pelaksana menilai Program Rumah Gizi sebagai model pengabdian masyarakat yang efektif, aplikatif, dan berkelanjutan, serta layak direplikasi di wilayah lain — khususnya daerah dengan keterbatasan akses pangan bergizi — sebagai bagian dari strategi percepatan penurunan stunting berbasis komunitas. Sejauh ini belum ada rilis resmi dari Pemerintah Kabupaten Boalemo atau Dinas Kesehatan setempat soal perluasan program serupa ke kecamatan lain. Artikel ini akan diperbarui begitu ada informasi resmi lanjutan.

Disclaimer: Informasi gizi dalam artikel ini bersifat umum dan edukatif. Konsultasikan dengan dokter anak atau tenaga kesehatan sebelum mengambil tindakan terkait status gizi balita.

Baca Juga 83% Anak di Indonesia Mengalami Gigi Berlubang: Masalah Kesehatan yang Tidak Boleh Dianggap Sepele

Pertanyaan Umum Seputar Program Rumah Gizi Boalemo

Apa itu Program Rumah Gizi di Boalemo?

Program Rumah Gizi adalah kegiatan pengabdian masyarakat oleh tim dosen Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo di Desa Piloliyanga, Kabupaten Boalemo, yang menyasar ibu dan balita lewat edukasi gizi dan demo memasak berbasis pangan lokal.

Berapa prevalensi stunting di Gorontalo?

Menurut data SSGI 2022, prevalensi stunting di Provinsi Gorontalo tercatat 23,9 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional yang berada di kisaran 21,6 persen pada tahun yang sama.

Apa hasil utama dari Program Rumah Gizi?

Program ini terbukti meningkatkan pengetahuan gizi ibu balita, keterampilan mengolah makanan sehat, serta memperkuat empat pilar ketahanan pangan keluarga: ketersediaan, akses, pemanfaatan, dan stabilitas pangan.

Apakah program ini akan diperluas ke kecamatan lain di Boalemo?

Hingga artikel ini diperbarui, belum ada rilis resmi dari pemerintah daerah soal perluasan program ke kecamatan lain. Tim peneliti menilai model ini layak direplikasi di wilayah dengan keterbatasan akses pangan bergizi.


Artikel ini disusun berdasarkan riset dan rilis resmi Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo. Sumber: fk.ung.ac.id dan Kementerian Kesehatan RI — Ayo Sehat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *