pagakabboalemo – Masa balita sering disebut sebagai periode emas atau golden age karena pada fase inilah pertumbuhan tubuh dan perkembangan otak berlangsung sangat pesat. Anak mulai aktif berjalan, berlari, berbicara, mengenal lingkungan, hingga belajar berbagai keterampilan baru setiap harinya. Semua aktivitas tersebut membutuhkan energi yang tidak sedikit.
Sayangnya, masih banyak orang tua yang mengira balita hanya membutuhkan porsi makan sedikit karena ukuran tubuhnya masih kecil. Padahal, kebutuhan energi balita cukup tinggi jika dibandingkan dengan berat badannya. Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) Indonesia yang mengacu pada Kementerian Kesehatan RI, balita usia 1–3 tahun membutuhkan sekitar 1.350 kilokalori (kkal) per hari untuk mendukung pertumbuhan dan aktivitas sehari-hari.
Lantas, apa arti angka 1.350 kkal tersebut? Apakah semua balita harus mengonsumsi makanan dalam jumlah yang sama? Berikut penjelasan lengkapnya.
Apa Itu 1.350 Kkal per Hari? Kalori merupakan satuan energi yang diperoleh tubuh dari makanan dan minuman. Energi ini digunakan untuk menjalankan berbagai fungsi penting, mulai dari bernapas, memompa darah, menjaga suhu tubuh, bergerak, hingga mendukung pertumbuhan jaringan baru.
Pada balita usia 1–3 tahun, kebutuhan energi sekitar 1.350 kkal bukan hanya digunakan untuk bermain atau berlari. Sebagian besar energi justru dipakai untuk proses pertumbuhan yang berlangsung setiap saat, termasuk perkembangan organ, tulang, otot, dan otak.
Karena itu, memenuhi kebutuhan kalori harian menjadi salah satu faktor penting agar anak dapat tumbuh sesuai usianya.
Mengapa Balita Membutuhkan Energi yang Cukup Besar?
Jika diperhatikan, balita hampir tidak pernah diam. Mereka senang berlari, melompat, memanjat kursi, mengejar bola, hingga mengeksplorasi berbagai benda di sekitarnya. Aktivitas fisik yang tinggi tentu membutuhkan pasokan energi yang memadai.
Selain aktivitas fisik, perkembangan otak balita juga sedang berlangsung sangat cepat. Pada usia ini, anak mulai belajar mengenali warna, bentuk, suara, bahasa, hingga kemampuan sosial. Semua proses tersebut membutuhkan nutrisi yang cukup agar perkembangan berjalan optimal.
Apabila kebutuhan energi tidak terpenuhi dalam jangka waktu lama, pertumbuhan anak dapat terganggu. Berat badan sulit naik, tinggi badan tidak berkembang sesuai kurva pertumbuhan, hingga daya tahan tubuh menjadi lebih lemah.
Dari Mana Sumber 1.350 Kkal Itu Berasal?
Kebutuhan energi harian sebaiknya dipenuhi melalui makanan yang beragam dan bergizi seimbang, bukan hanya dari satu jenis makanan saja.
Karbohidrat menjadi sumber energi utama bagi balita. Nasi, kentang, ubi, jagung, roti gandum, maupun oatmeal dapat menjadi pilihan yang baik.
Protein juga memiliki peran penting karena membantu membangun jaringan tubuh, otot, serta mendukung perkembangan otak. Sumber protein bisa berasal dari telur, ikan, ayam, daging tanpa lemak, tahu, tempe, dan kacang-kacangan.
Lemak sehat tidak kalah penting. Banyak orang tua justru menghindari lemak, padahal balita membutuhkan lemak untuk mendukung perkembangan otak dan sistem saraf. Alpukat, ikan berlemak, santan secukupnya, minyak zaitun, serta produk susu merupakan beberapa sumber lemak sehat yang dapat diberikan sesuai kebutuhan.
Sementara itu, buah dan sayuran berfungsi melengkapi kebutuhan vitamin, mineral, dan serat agar sistem pencernaan tetap sehat.
Bukan Sekadar Banyak Makan
Memenuhi angka 1.350 kkal bukan berarti anak harus makan dalam porsi besar sekaligus.
Lambung balita masih berukuran relatif kecil sehingga mereka lebih cocok makan dalam porsi sedikit tetapi lebih sering.
Karena itu, orang tua dapat membagi kebutuhan energi menjadi tiga kali makan utama yang diselingi dua hingga tiga kali camilan sehat.
Dengan pola makan seperti ini, kebutuhan energi dapat terpenuhi secara bertahap tanpa membuat anak merasa terlalu kenyang.
Selain itu, pola makan teratur juga membantu menjaga kadar energi anak tetap stabil sepanjang hari.
Jangan Sampai Kalori Berasal dari Makanan Tinggi Gula
Kesalahan yang masih sering terjadi adalah memenuhi kebutuhan kalori menggunakan makanan atau minuman tinggi gula.
Misalnya, memberikan minuman manis, permen, biskuit berlapis gula, atau makanan cepat saji secara berlebihan.
Memang makanan tersebut mengandung kalori, tetapi kandungan gizinya relatif rendah.
Akibatnya, anak merasa kenyang tetapi tubuhnya tetap kekurangan vitamin, mineral, protein, maupun lemak sehat yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang.
Fenomena ini dikenal sebagai hidden hunger atau kelaparan tersembunyi, yaitu kondisi ketika kebutuhan energi tercukupi tetapi kualitas gizinya masih kurang.
Apa yang Terjadi Jika Asupan Kalori Kurang?
Kekurangan energi dalam waktu lama dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan balita.
Pertumbuhan berat badan menjadi lambat, tinggi badan tidak berkembang sesuai usia, dan anak tampak lebih mudah lelah ketika bermain.
Selain itu, kekurangan energi juga dapat memengaruhi perkembangan otak sehingga kemampuan belajar, daya konsentrasi, dan perkembangan kognitif ikut terganggu.
Sistem kekebalan tubuh juga menjadi lebih lemah sehingga anak lebih mudah mengalami infeksi, seperti batuk, pilek, maupun diare berulang.
Jika berlangsung kronis, kondisi ini dapat meningkatkan risiko terjadinya stunting.
Bagaimana Jika Kalorinya Justru Berlebihan?
Di sisi lain, memberikan makanan secara berlebihan juga bukan solusi.
Asupan kalori yang jauh melebihi kebutuhan harian dapat menyebabkan kenaikan berat badan berlebihan hingga obesitas pada anak.
Obesitas di usia dini meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular saat dewasa, seperti diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, hingga penyakit jantung.
Anak juga berpotensi mengalami gangguan kepercayaan diri akibat berat badan yang berlebih ketika mulai memasuki usia sekolah.
Karena itu, keseimbangan menjadi kunci utama dalam memenuhi kebutuhan energi balita.
Contoh Pola Makan Sehari

Agar kebutuhan energi sekitar 1.350 kkal dapat terpenuhi, orang tua bisa menyusun menu yang bervariasi.
Pagi hari, anak dapat mengonsumsi nasi dengan telur dadar dan sayur bayam, disertai segelas susu sesuai usianya. Menjelang siang, camilan berupa potongan pisang atau pepaya dapat menjadi pilihan.
Saat makan siang, menu dapat berupa nasi, ikan kukus, tumis wortel dan brokoli, kemudian dilanjutkan camilan sore seperti yogurt tanpa tambahan gula berlebih atau potongan buah segar.
Pada malam hari, anak dapat menikmati nasi dengan ayam, tahu, serta sup sayuran. Variasi menu seperti ini membantu memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral secara lebih seimbang.
Orang Tua Perlu Memantau Pertumbuhan Anak
Memenuhi kebutuhan energi bukan hanya soal melihat seberapa banyak anak makan.
Yang jauh lebih penting adalah memantau apakah pertumbuhan berat badan dan tinggi badan berjalan sesuai grafik pertumbuhan yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Pemeriksaan rutin di Posyandu, Puskesmas, atau dokter anak membantu mendeteksi lebih awal apabila terdapat masalah pertumbuhan maupun kekurangan gizi.
Jika anak termasuk picky eater atau mengalami kesulitan makan, konsultasi dengan dokter atau ahli gizi dapat membantu menyusun strategi pemberian makan yang lebih sesuai.
Kebutuhan Kalori Harus Disertai Pola Hidup Sehat
Selain makanan bergizi, tumbuh kembang balita juga dipengaruhi oleh kualitas tidur, aktivitas fisik, dan stimulasi yang diberikan setiap hari.
Anak sebaiknya memiliki waktu bermain aktif di luar ruangan, tidur yang cukup sesuai usianya, serta mendapatkan kesempatan berinteraksi dengan keluarga melalui bermain, membaca buku, maupun berbicara bersama.
Semua faktor tersebut saling melengkapi dalam mendukung perkembangan fisik, mental, dan emosional anak.
Pada akhirnya, angka 1.350 kkal per hari bukan sekadar angka di atas kertas. Jumlah tersebut menjadi gambaran kebutuhan energi rata-rata balita usia 1–3 tahun agar mereka dapat tumbuh sehat, aktif, dan berkembang secara optimal. Dengan memilih makanan bergizi seimbang, membangun kebiasaan makan yang baik, serta rutin memantau pertumbuhan anak, orang tua dapat membantu si kecil melewati masa emas pertumbuhan dengan lebih maksimal. Ingat, kualitas makanan sama pentingnya dengan jumlah kalori yang dikonsumsi setiap hari.
Referensi:
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia.
https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/138621/permenkes-no-28-tahun-2019 - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Rekomendasi Nutrisi dan Tumbuh Kembang Anak.
https://www.idai.or.id - World Health Organization (WHO). Infant and Young Child Feeding.
https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/infant-and-young-child-feeding







