Ringkasan Cepat:
- Kemenkes mencatat 8.224 kasus suspek campak per 23 Februari 2026, dengan 4 kematian.
- Cakupan imunisasi campak-rubela dosis pertama turun dari 92% (2024) menjadi 82% (2025), jauh di bawah ambang 95% untuk kekebalan kelompok.
- Indonesia sempat menempati posisi kedua dunia untuk kasus campak menurut data WHO/CDC per Februari 2026.
Jakarta, 16 Juli 2026 — Kementerian Kesehatan RI mencatat 8.224 kasus suspek campak sejak 1 Januari hingga 23 Februari 2026, dengan mayoritas penderita adalah anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap. Sebanyak 21 kejadian luar biasa (KLB) suspek campak dilaporkan di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi, dan empat anak meninggal dunia akibat komplikasi penyakit ini.
Mengapa Ini Penting?

Campak adalah penyakit infeksi yang disebabkan virus morbillivirus dengan angka reproduksi dasar (R0) mencapai 12–18 — artinya satu penderita berpotensi menularkan virus ke belasan orang yang belum memiliki kekebalan. Gejala awal biasanya berupa demam tinggi, batuk, pilek, dan radang mata yang dikenal sebagai “3C” (cough, coryza, conjunctivitis), sebelum muncul ruam kemerahan yang dimulai dari wajah dan menyebar ke seluruh tubuh.
Lonjakan kasus ini terjadi karena cakupan imunisasi campak-rubela dosis pertama turun dari 92 persen pada 2024 menjadi 82 persen pada 2025 — jauh di bawah ambang 95 persen yang direkomendasikan World Health Organization untuk membentuk kekebalan kelompok. Situasi ini mirip dengan kerentanan anak terhadap ancaman kesehatan musiman lain, seperti risiko heat stroke pada balita di musim kemarau yang juga baru-baru ini diperingatkan Kemenkes.
Lima provinsi dengan KLB campak terbanyak adalah Sumatera Barat, Sumatera Selatan, DI Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Berdasarkan data WHO yang dirilis Centers for Disease Control and Prevention per Februari 2026, Indonesia sempat menempati posisi kedua dunia untuk jumlah kasus campak, di bawah Yaman dan di atas India.
Reaksi dan Dampak

Direktur Imunisasi Kemenkes, Endang Budi Hastuti, menjelaskan bahwa lonjakan kasus terutama dipicu oleh ketimpangan cakupan imunisasi antarwilayah, sehingga anak yang belum diimunisasi lengkap memiliki risiko tertular lebih tinggi. Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI, Sukamto Koesnoe, turut mengingatkan dampak penurunan cakupan vaksin terhadap penyebaran virus.
“Ketika cakupan vaksin turun, virus akan lebih mudah menemukan orang yang belum imun”
— dr. Sukamto Koesnoe, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI
Konsultan Penyakit Infeksi dan Tropik Anak RSCM, dr. Mulya Rahma Karyanti, menambahkan bahwa capaian imunisasi campak-rubela secara nasional sebenarnya sudah melampaui target, namun kantong-kantong dengan cakupan rendah di tingkat provinsi hingga desa membuat “risiko KLB campak menjadi lebih tinggi” di wilayah tersebut.
Kelompok paling rentan mengalami komplikasi berat adalah anak di bawah lima tahun, anak dengan gizi kurang, serta anak dengan penyakit penyerta seperti HIV atau yang sedang menjalani terapi imunosupresan. Komplikasi campak dapat berupa pneumonia, diare berat, infeksi telinga tengah, hingga radang otak (ensefalitis) yang berpotensi fatal — sehingga orang tua diimbau memastikan asupan gizi anak tetap terjaga, sejalan dengan panduan kebutuhan kalsium harian anak sesuai usia yang mendukung daya tahan tubuh optimal.
Kronologi Peristiwa

| Waktu | Kejadian | Sumber |
|---|---|---|
| 23 Feb 2026 | 8.224 kasus suspek campak, 4 kematian, 21 KLB di 17 kab/kota, 11 provinsi | Kemenkes RI |
| 26 Feb 2026 | Kemenkes gelar konferensi pers dinamika campak nasional dan global | Kemenkes RI |
| 11 Mar 2026 | Kasus suspek naik jadi 10.453, dengan 45 KLB di 29 kab/kota, 11 provinsi | Webinar Kemenkes |
| 12 Mar 2026 | Menkes targetkan cakupan imunisasi 95% di 50 kab/kota sebelum Lebaran | CNN Indonesia |
| 9 Apr 2026 | Progres ORI: Depok 100%, Kab. Bima 80,8%, Palembang 60,9% | Suara.com |
Apa Selanjutnya?

Kemenkes menargetkan penyelesaian imunisasi kejar atau Outbreak Response Immunization (ORI) pada anak usia 9 bulan hingga di bawah 13 tahun rampung sekitar Juni 2026, dengan prioritas pada balita di wilayah cakupan rendah. Beberapa daerah seperti Kota Depok telah mencapai 100 persen cakupan ORI, sementara Kabupaten Bima dan Palembang masih menyusul di angka 80,8 persen dan 60,9 persen per awal April 2026.
Selain imunisasi kejar, Kemenkes memperkuat surveilans dan deteksi dini menyusul notifikasi International Health Regulation dari otoritas kesehatan Australia terkait kasus campak pada pelancong dengan riwayat perjalanan dari Indonesia. Orang tua diimbau segera melengkapi imunisasi MR anak sesuai jadwal — dosis pertama usia 9 bulan dan dosis kedua usia 18 bulan — serta menjaga kebersihan dan gizi seimbang anak, termasuk kewaspadaan terhadap masalah kesehatan anak lain yang juga menjadi perhatian IDAI belakangan ini, seperti lonjakan kasus diabetes pada anak usia 5–9 tahun.
Pertanyaan Umum
Kapan jadwal imunisasi campak untuk anak?
Vaksin campak-rubela diberikan dua dosis: dosis pertama (MR1) pada usia 9 bulan dan dosis kedua (MR2) pada usia 18 bulan, sesuai jadwal imunisasi nasional Kemenkes.
Mengapa kasus campak melonjak di awal 2026?
Penurunan cakupan imunisasi campak-rubela dari 92% (2024) menjadi 82% (2025) menciptakan celah kekebalan kelompok, sehingga virus lebih mudah menyebar di wilayah dengan cakupan rendah.
Apa gejala awal campak pada anak?
Gejala awal dikenal sebagai “3C” — cough (batuk), coryza (pilek), dan conjunctivitis (radang mata) — disertai demam tinggi, sebelum muncul ruam kemerahan yang menyebar dari wajah ke seluruh tubuh.







