pagakabboalemo – Diabetes selama ini sering dianggap sebagai penyakit yang identik dengan orang dewasa. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kondisi tersebut berubah drastis. Kasus diabetes pada anak di Indonesia menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan, bahkan menjadi perhatian serius para dokter anak dan organisasi kesehatan.
Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menunjukkan bahwa kelompok usia 5–9 tahun menyumbang sekitar 31,05% dari seluruh kasus diabetes pada anak yang tercatat di Indonesia. Angka tersebut menjadikan kelompok usia sekolah dasar sebagai salah satu kelompok yang paling rentan setelah kelompok usia 10–14 tahun yang mencapai 46,23%.
Penting untuk dipahami bahwa angka 31,05% tersebut bukan berarti 31,05% seluruh anak Indonesia usia 5–9 tahun menderita diabetes, melainkan 31,05% dari total kasus diabetes anak yang berhasil terdata berada pada kelompok usia tersebut. Kesalahpahaman mengenai angka ini sering terjadi di media sosial dan dapat menimbulkan kepanikan yang tidak perlu.
Lonjakan Kasus yang Mengkhawatirkan
Menurut data IDAI, prevalensi diabetes pada anak meningkat sangat tajam dalam dua dekade terakhir. Pada tahun 2023, angka kasus diabetes anak dilaporkan meningkat hingga sekitar 70 kali lipat dibandingkan tahun 2010. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa diabetes bukan lagi penyakit yang hanya menyerang kelompok usia dewasa.
Para ahli menilai peningkatan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari perubahan pola makan, meningkatnya angka obesitas anak, kurangnya aktivitas fisik, hingga faktor genetik dan autoimun.
Sebaran Kasus Diabetes Anak Berdasarkan Usia
Berikut distribusi kasus diabetes pada anak berdasarkan kelompok usia menurut data IDAI:
| Kelompok Usia | Persentase Kasus |
|---|---|
| 0–4 tahun | 19% |
| 5–9 tahun | 31,05% |
| 10–14 tahun | 46,23% |
| >14 tahun | 3% |
Dari tabel tersebut terlihat bahwa lebih dari tiga perempat kasus diabetes anak berada pada rentang usia sekolah dasar hingga awal remaja.
Mengapa Anak Bisa Mengalami Diabetes?
Secara umum terdapat dua jenis diabetes yang paling sering ditemukan pada anak.
Diabetes Tipe 1
Diabetes tipe 1 terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel penghasil insulin di pankreas. Akibatnya tubuh tidak mampu menghasilkan insulin yang cukup untuk mengontrol kadar gula darah. Jenis diabetes ini tidak selalu berkaitan dengan pola makan atau gaya hidup. Faktor genetik dan gangguan autoimun berperan besar dalam kemunculannya.
Diabetes Tipe 2
Diabetes tipe 2 terjadi ketika tubuh mengalami resistensi insulin atau tidak mampu menggunakan insulin secara efektif. Jenis ini lebih erat kaitannya dengan gaya hidup, obesitas, kurang aktivitas fisik, dan pola makan tinggi gula serta kalori. Dalam beberapa tahun terakhir, diabetes tipe 2 semakin sering ditemukan pada anak-anak akibat meningkatnya angka kelebihan berat badan dan obesitas.
Faktor Risiko yang Semakin Umum
Perubahan gaya hidup modern menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya risiko diabetes pada anak Indonesia. Beberapa faktor yang sering ditemukan antara lain:
| Faktor Risiko | Dampak |
|---|---|
| Konsumsi minuman manis berlebihan | Meningkatkan kadar gula darah |
| Makanan ultra-proses | Memicu obesitas dan resistensi insulin |
| Kurang olahraga | Menurunkan sensitivitas insulin |
| Waktu layar (screen time) tinggi | Mengurangi aktivitas fisik |
| Kurang tidur | Mengganggu metabolisme tubuh |
| Riwayat keluarga diabetes | Meningkatkan risiko genetik |
Kondisi ini semakin diperparah oleh mudahnya akses anak terhadap makanan dan minuman tinggi gula. Berbagai produk minuman kemasan, teh manis, minuman bersoda, hingga makanan ringan tinggi kalori kini menjadi bagian dari konsumsi harian banyak anak.
Kebiasaan Konsumsi Gula pada Anak Indonesia

Data Riskesdas yang dikutip dalam berbagai laporan kesehatan menunjukkan bahwa kelompok usia muda merupakan kelompok dengan tingkat konsumsi makanan dan minuman manis yang cukup tinggi.
Kelompok usia 5–9 tahun tercatat memiliki konsumsi minuman manis harian yang sangat tinggi dibanding kelompok usia lain. Kebiasaan ini menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan risiko obesitas dan diabetes di masa depan.
Ketika anak terlalu sering mengonsumsi makanan atau minuman dengan indeks glikemik tinggi, kadar gula darah akan naik dengan cepat. Tubuh kemudian memproduksi insulin dalam jumlah besar secara berulang. Dalam jangka panjang kondisi tersebut dapat membebani pankreas dan meningkatkan risiko gangguan metabolisme.
Gejala yang Harus Diwaspadai Orang Tua
Salah satu tantangan terbesar adalah banyak orang tua yang tidak menyadari gejala diabetes pada anak. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- Anak sering haus.
- Frekuensi buang air kecil meningkat.
- Berat badan turun tanpa sebab jelas.
- Mudah lelah.
- Nafsu makan meningkat tetapi berat badan menurun.
- Luka sulit sembuh.
- Penglihatan kabur.
- Sering mengompol kembali setelah sebelumnya tidak mengompol.
Gejala-gejala tersebut sering dianggap sebagai masalah biasa sehingga diagnosis menjadi terlambat. Bahkan menurut laporan IDAI, tidak sedikit anak yang baru dibawa ke rumah sakit ketika kondisinya sudah berat atau mengalami komplikasi serius.
Dampak Jangka Panjang
Jika tidak ditangani dengan baik, diabetes dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi meliputi:
| Komplikasi | Dampak |
|---|---|
| Gangguan ginjal | Penurunan fungsi ginjal |
| Gangguan mata | Risiko kebutaan |
| Penyakit jantung | Risiko penyakit kardiovaskular |
| Kerusakan saraf | Mati rasa dan nyeri kronis |
| Gangguan pertumbuhan | Menghambat perkembangan anak |
Karena itu, diagnosis dini dan pengelolaan yang tepat sangat penting untuk memastikan anak tetap dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua? Pencegahan diabetes pada anak sebenarnya dapat dimulai dari lingkungan keluarga. Beberapa langkah yang direkomendasikan antara lain Membatasi Konsumsi Gula, Kurangi minuman berpemanis, minuman kemasan, dan makanan tinggi gula tambahan. Mendorong Aktivitas Fisik, Anak sebaiknya aktif bergerak minimal 60 menit setiap hari melalui olahraga, bermain di luar rumah, atau aktivitas fisik lainnya.
Menjaga Berat Badan Ideal, Pemantauan berat badan dan tinggi badan secara berkala dapat membantu mendeteksi risiko obesitas sejak dini. Mengatur Pola Tidur, Anak usia sekolah membutuhkan waktu tidur yang cukup untuk menjaga keseimbangan hormon dan metabolisme tubuh. Pemeriksaan Kesehatan Berkala, Jika terdapat riwayat diabetes dalam keluarga atau anak menunjukkan gejala yang mencurigakan, pemeriksaan gula darah perlu dipertimbangkan.
Peran Sekolah dan Pemerintah
Masalah diabetes anak tidak bisa diselesaikan oleh keluarga saja. Sekolah dan pemerintah juga memiliki peran penting.
Program edukasi gizi, pembatasan penjualan makanan tinggi gula di lingkungan sekolah, peningkatan fasilitas olahraga, serta kampanye gaya hidup sehat perlu diperkuat. Langkah-langkah tersebut dapat membantu menekan laju peningkatan diabetes pada anak di masa mendatang.
Selain itu, tenaga kesehatan perlu meningkatkan deteksi dini agar kasus diabetes dapat ditemukan sebelum menimbulkan komplikasi yang lebih berat.
Data IDAI yang menunjukkan bahwa kelompok usia 5–9 tahun menyumbang 31,05% kasus diabetes anak di Indonesia merupakan peringatan serius bagi seluruh pihak. Meski angka tersebut bukan berarti 31,05% seluruh anak Indonesia terkena diabetes, fakta bahwa hampir sepertiga kasus terjadi pada usia sekolah dasar menunjukkan bahwa penyakit ini semakin banyak menyerang kelompok usia muda.
Perubahan pola makan, meningkatnya konsumsi gula, kurangnya aktivitas fisik, dan tingginya angka obesitas menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Dengan edukasi yang tepat, pola hidup sehat sejak dini, serta deteksi dini yang lebih baik, risiko diabetes pada anak dapat ditekan sehingga generasi muda Indonesia dapat tumbuh lebih sehat dan produktif.
Referensi
https://pagakabbantul.org/2026/06/10/kasus-diabetes-anak-usia-5-9-tahun/







